ROMANSA

                     Pict by Studio Gibli

Mungkin dulu saat usia belasan tahun, bayangan akan masa depan simpel sih, lulus kuliah, kerja, nikah.... Mungkin usia 25an atau dibawah itu sudah menikah, pikirku. Tapi ternyata tidak sesederhana itu, banyak hal kompleks yg harus dilalui terlebih dahulu. Apalagi untuk orang yang belum pernah menjalin hubungan asmara dan mengalami kisah romansa, tentunya akan banyak pertimbangan dan tidak asal-asalan dalam menentukan teman hidupnya. 

Sejak di bangku sekolah, tentu mengalami yang namanya suka dengan lawan jenis. Meskipun memiliki perasaan suka, apakah harus disalurkan dan diekspresikan dengan pacaran? Tentu tidak! Anak usia sekolah itu masih masih sangat rentan. Rentan melakukan hal ceroboh dan berpikir dangkal, kebanyakan tidak berorientasi ke masa depan. Selain memang alasan utamanya dalam agama tidak boleh berpacaran. 

Lantas bagaimana jika kita memiliki perasaan kepada seseorang ketika masih duduk di bangku sekolah? Aku lebih memilih memendam perasaan atau yang sangat familiar adalah cinta dalam diam. Toh ketika kita tau dia suka dengan kita juga, tidak ada hal yg bisa dilakukan diusia dini. Karena sudut pandang ku saat itu hal romansa haruslah disalurkan dan berlabuh di pelaminan. Lantas apakah orang-orang yg aku sukai ini adalah orang yang tepat? Nah disitulah pertanyaan utama yang sampai saat ini saya menulis pun belum tau. 

Bagaimana sih rasanya mengalami cinta dalam diam? 
Bukan hal mudah untuk bisa memendam perasaan suka sendiri. Pasti kalian taulah efek bahagia atau berbunga-bunga ketika sedang jatuh cinta. Bagi orang yg memiliki pasangan tentu akan diekspresikan dengan ungkapan dan perlakuan sayang, tapi bagi orang yang mengalami cinta dalam diam tentu harus memendam sendiri perasaan itu. Tapi biasanya hal sangat kecil yang dilakukan orang yang disukai kepada kita, akan berdampak sangat besar kepada diri kita. Hal-hal sederhana yang dia lakukan itu bisa membuat perasaan kita bahagia. Tapi, kita tidak tau apakah hal itu dia lakukan hanya kepada kita saja karena dia juga suka dengan kita atau karena dia baik ke semua orang, sehingga hal yang dia lakukan ke kita juga dia lakukan ke orang lain. Kalau saya sih positif thinking saja, dia memang orang yang baik, sehingga dia bisa saja melakukan hal tersebut kepada semua orang. Intinya jangan terlalu geer lah ya, kalau dia belum mengungkapkan perasaan suka ya kita tidak tau dia suka dengan kita atau tidak. Tentunya hal tersebut berlaku bagi orang yang memang ramah kepada semua orang, berbeda dengan orang yang sangat-sangat tertutup dengan orang lain. Ibarat kata, jangankan mau masuk ke dalam hatinya, sekedar manggil dan mengetuk pintu hatinya saja tidak ada respon. Terkadang saat diposisi ini saya sering mikir, haruskah seorang wanita menerobos pintu tersebut? Mungkin hal tersebut akan sangat sering kita lihat di film atau cerita-cerita kisah romansa. Bagaimana seseorang wanita ekstrovert yang akan memilih masuk menerobos pintu tersebut, dan diakhiri dengan happy ending. Tentunya hal tersebut dapat dilakukan pada orang yg benar-benar tebal muka sih, yang gak malu dan tahan terhadap perkataan negatif, sikap cuek, dan tidak direspon oleh orang tertutup tersebut. Baik kepada orang yang ramah ataupun tertutup, yang namanya cinta dalam diam, akan sangat mudah terjadi yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan. Yaps benar, sangat memungkinkan jika memang dia juga menyukai orang lain, bahkan mungkin dia sudah menjalin hubungan dengan orang lain. 

Lantas bagaimana dengan kisah romansa saya diusia 25 ini? 
Jawabannya adalah tidak tau nih, saat saya menulis ini pun belum nampak hilalnya 😅. Terkadang berpikir terlalu ideal justru malah tidak akan terjadi, mengikuti alur saja takutnya juga akan kebablasan. Sebenernya tidak seidealis itu sih, setidaknya masuk beberapa kriteria utama yang memang penting serta sefrekuensi dan sekufu. Mengikuti alur juga ya koq tidak terasa sudah 25 tahun saja, tapi ya belum ketemu juga dengan sosok yang ditakdirkan. 

Lantas apa sih hal yang membuat kebanyakan wanita 'takut' untuk menikah?
Hal yang paling utama jawabannya adalah Takut Menikah dengan Orang yang Salah
Penilaian kita terhadap seseorang diawal perkenalan ketika belum menikah bisa saja salah, dan kita baru tau orang tersebut yang sebenarnya ketika sudah menikah. Karena sudah banyak cerita kisah nyata bahwa diawal perkenalan seorang pria bisa saja berbohong dan bersikap sangat-sangat baik agar wanita yang dia inginkan bisa suka dan cinta juga kepada orang tersebut. Karena salah memilih pasangan akan sangat berpengaruh terhadap masa depan kita. Wanita rentan mendapatkan kekerasan baik secara fisik maupun verbal oleh suaminya sehingga terjadi KDRT, pria yang tidak setia dan suka berbohong akan muda berselingkuh, pria yang ternyata pemalas yang tidak mau kerja mencari nafkah, pria yang terlalu boros tidak tau mana yang harus diprioritas ketika sudah berkeluarga, belum lagi setiap individu punya luka batinnya sendiri yang malah dilampiaskan pada pasangannya, setelah menikah baru merasa bahwa tidak cocok, dan permasalahan-permasalahan lainnya yang masih banyak lagi, yang pada akhirnya dapat berujung pada perceraian. 

Kedua, Kesiapan Diri Wanita Tersebut Banyak wanita yang sering meragukan dirinya sendiri dengan pertanyaan dalam diri "Saya sudah siap belum sih?" (Bagi wanita usia 25 tahun, siap disini bukan berarti sudah bisa masak, dan beberes rumah lantas sudah dianggap siap. Tetapi siap secara mental dan psikis. Karena biasanya wanita usia segini ya tentulah sudah bisa beberes rumah dan masak mah, beda cerita kalau dia memang orang kaya yang apa-apa dikerjakan oleh orang lain).
Jawaban sementara menurut logika saya tentang jawaban atas pertanyaan ini adalah, "Siap atau tidaknya seorang wanita tergantung pada siapa orang yang melamarnya", karena ketika saya amati dari teman-teman maupun orang terdekat, alasan mereka siap menikah karena laki-laki yang melamar wanita tersebut setidaknya sudah masuk ke dalam kriterianya. Sehingga si wanita akan merasa siap untuk menikah dengan orang tersebut karena kriteria yg dia butuhkan untuk berumah tangga sudah ada pada pria tersebut. Jika orang yang melamarnya tidak masuk dalam kriterianya maka seorang wanita pun akan meragukan dirinya kedepannya bakal gimana memikirkan ini dan itu sehingga ia akan merasa belum siap.

Ketiga, Kekhawatiran Terhadap Keluarga Pria
Setiap wanita pasti memiliki kekhawatiran ini. Namanya menikah bukan hanya aku dan kamu lantas menjadi kita saja. Tetapi menikah adalah menyatukan 2 keluarga bahkan adat istiadat yang berbeda. Sehingga wajar jika seorang wanita memiliki kekhawatiran atau takut jika keluarga pihak laki-laki tidak suka kepadanya, mertua suka ikut campur dalam rumah tangga anak, membanding-bandingkan mantunya, menganggap mantunya tidak becus dalam mengurus rumah dll. Sehingga penting sekali bagi seorang pria ketika serius ingin menikah sudah dapat memikirkan dan berdiskusi dengan pasangannya ketika menikah nanti akankah tinggal bersama dengan keluarga pihak pria/ pihak wanita/ ngekost/ ngontrak/ tinggal di apartemen/ sudah mempunyai rumah sendiri. 

Keempat, Berputar di Permasalahan yang Sama
Permasalahan utama kisah romansa wanita single ya, "Ketika dia suka dengan seseorang, orang tersebut tidak suka balik, atau orang tersebut sudah punya pasangan. Ketika dia disukai orang lain, dia tidak suka dengan orang tersebut. Agak langka mungkin ini, tapi pasti ada yang begini, ternyata sama-sama saling suka tapi tidak ada yang berani untuk menyatakan, sehingga tidak tau kalau saling suka, karena dikiranya bertepuk sebelah tangan."
Nah biasanya banyak yang belum memiliki pasangan karena masih berputar di masalah yang sama itu 😌.

Kelima, Insecure dengan Diri Sendiri
Seringnya setiap orang akan merasa insecure atau kurang percaya diri, karena merasa dirinya masih banyak kekurangan ini dan itu. Terkadang terpikirkan, Apakah kita pantas untuk dicintai oleh seseorang? Bagaimana kalau dia tidak bisa menerima kekurangan saya? Atau perasaan lainnya yang membuat kurang percaya diri sehingga merasa tidak pantas untuk dicintai seseorang. 

Secara umum, itulah 5 hal utama yang sering ditakutkan atau dikhawatirkan oleh wanita jika membahas tentang pernikahan. Menurut saya, wajar jika setiap wanita memiliki pikiran seperti itu, karena menikah adalah salah satu pilihan hidup yang sangat penting, jika salah mengambil keputusan maka dapat menyesal seumur hidup. Oleh karenanya sebelum mengambil keputusan alangkah baiknya dipikirkan kembali matang-matang, dan harus bisa menerima konsekuensi atas apa yang kita pilih. 

Pesan saya bagi para pria, "Ingat, wanita yang kau persunting adalah buah cinta orang tuanya yang mereka rawat dan besarkan dengan penuh kasih sayang. Diberi sandang, pangan, dan papan terbaik yang bisa orang tuanya berikan. Mendapatkan pendidikan yang sangat layak, dipupuk oleh karakter dan akhlak baik sehingga tumbuh menjadi pribadi yang kamu kenal saat ini. Hingga akhirnya kamu bertemu dengannya menjadi suka, cinta, serta kagum dengan sosoknya. Lantas jika kamu sudah mendapatkan hatinya, perlakukan dia dengan baik, seperti orang tuanya yang sudah memberikan yang terbaik selama ini. Jangan sampai kau sakiti hatinya, baik verbal maupun fisik, apalagi dengan berpindah ke lain hati dengan menduakannya.. Jadilah imam yang baik, amanah, dan bertanggung jawab, yang bisa menuntun istri beserta anak-anak mu kelak menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah hingga menuju jannah yang Allah Ridhoi..."

Postingan populer dari blog ini

Ketika Aku keTRIGGER!

Bukan karena SIAL tapi harus SIAP