Bukan karena SIAL tapi harus SIAP
Dalam hidup ini saya yakin hal yang kita inginkan adalah hal-hal baik yang menyenangkan dan membahagiakan. Padahal di dunia ini bukan hanya hal baik yang terjadi, hal buruk juga terjadi untuk menyeimbangkan kehidupan. Seperti adanya siang tentu ada malam, ada positif ada negatif, ada baik ada buruk, ada senang ada sedih dll. Saya yakin tidak ada manusia di dunia ini yang menginginkan hal buruk terjadi dalam hidupnya.
Sejak kecil dan setiap fase kehidupan saya sering mengalami kendala, bisa dibilang tidak mulus jalan hidupnya seperti teman lainnya. Tapi dari sekian banyak orang, hal buruk itu sering terjadinya kepada saya. Misalnya saja beberapa hal yang masih saya ingat ketika membeli seragam dari sekolah, saya kebagian mendapatkan baju yang lengannya tidak sesuai ukuran, celana olahraga yang jahitannya tidak rapih sebelah, ketika SD pernah mendapatkan nilai Bahasa Inggris 50 di rapor setelah ibu saya menemui gurunya dan di cek kembali oleh gurunya dilihat nilai ujian saya bagus dan nilai sehari hari juga bagus akhirnya nilai saya diganti, saat SMA sekelas hanya saya yang remidi PAI padahal saya sudah bilang gurunya untuk mencoba mengecek kembali nilai saya, karena saya yakin saya bisa mengerjakan soal ulangan agama tetapi gurunya kekeuh saya harus remidi sendiri saat itu, akhirnya saya melakukan remidi sendiri di dalam kelas sambil terisak isak menangis sedangkan teman lainnya melanjutkan belajar dengan beliau padahal setelah beberapa hari kemudian gurunya baru ngecek nilai saya yang benar 96 bukan 69 beliau salah memberi nilai seharusnya saya tidak perlu remidi bahkan nilai saya adalah nilai yang tertinggi, dikala teman-teman yang lain sudah keterima di universitas saya harus belajar keras dan mengikuti banyak tes, ketika yang lain bisa menggunakan judul skripsi sesuai proposal yang sudah diujikan, saya harus ganti judul karena kendala COVID, dikala yang lain sidang berbeda 2 bulan dari saya mendapatkan Akta 4, sedangkan ketika saya sidang sudah tidak mendapatkan akta 4, saat saya cek ijazah saya dan teman yg sidang bareng saya ternyata terdapat perbedaan nomor akreditasi BANPT antara SK Akreditasi dengan sertifikat akreditasi BANPT akhirnya ijazah kami ditarik untuk diperbaiki, dikala teman-teman bisa ikut P3K saya tidak bisa ikut karena tidak ada formasi maple Biologi, di tahun berikutnya ketika saya sudah bisa ikut tes P3K nilai saya sudah besar tapi tidak lolos karena yang diutamakan yang serdik padahal nilai murni nya banyak yang kecil, sedangkan teman maple lain yang nilainya kecil karena formasinya banyak dia lolos juga, ketika teman-teman saya lancar ujian PPG namun saya terkendala server down, dikala peserta lain yang terkendala server down bisa mengulang saya tidak bisa mengulang lagi dan mungkin masih ada lagi namun kenangan masa kecil saya yang buruk seperti itu sudah saya lupakan dan tidak saya ingat lagi.
Lalu bagaimana respon orang tua menanggapi hal tersebut?
Oang tua saya bukan tipe orang yang peka dan supportif terhadap emosional anak. Mereka cenderung tipe yang tsundare soal perasaan. Respon ibu saya tentunya selalu mengungkit hal tersebut, “Kamu ya pesti loh kena apes terus!” Kemudian merepet dan membeberkan semua kesialan yang pernah saya alami. Bahkan hal buruk yang sudah saya lupakan pun beliau ingat dan diungkit kembali. Jika sudah begitu sudah jelas merasa semakin sedih dan menyalahi diri sendiri, membenarkan kata-katanya, dan meratapi “Iya ya kenapa ya koq aku gak seperti teman-teman yang lain? Kenapa aku selalu kena apes terus? kenapa? kenapa? kenapa? dan kenapa? kenapa? yang lainnya." Karena seringnya hal yang kualami itu di luar kendali ku, alias karena faktor luar atau eksternal yang entah kenapa aku yang kena imbas atau dampaknya, makanya ibuku menyebutku kena apes. Setelah merepet tentunya barulah keluar kalimat dari ortuku “Ya udah yang sabar aja.” Apalagi kalau memang tidak ada hal yang bisa dilakukan selain menunggu info selanjutnya. Meskipun begitu aku masih bersyukur mereka tidak menuntut ku jika aku mengalami kegagalan. Mereka hanya mengatakan "Sabar".
Bagaimana respon yang ku rasakan dan kulakukan saat mengalami hal buruk?
Setelah aku pahami, apalagi tahun ini aku mendapatkan kegagalan berturut-turut. Terdapat pola yang dilalui sampai akhirnya kita bisa menerima hal buruk itu terjadi kepada kita dan sampai ditahap kita tawakal terhadap takdir yang kita dapatkan tersebut. Dikutip dari Alodokter terdapat beberapa fase yang dialami
1. Fase Menyangkal (Denial), Seseorang cenderung meragukan atau menyangkal bahwa ia sedang mengalami peristiwa buruk. Ini merupakan respons alami manusia untuk meminimalkan luka batin atau emosional yang sedang dirasakan. Biasanya di fase ini saya akan merasa kaget dan tidak percaya hal itu menimpa saya. Saya berpikir menggunakan logika maksud dari semua ini apa, saya berusaha menganalisa hal yang terjadi, dan mencoba mengecek apakah hal ini benar terjadi kepada saya atau ada kesalahan.
2. Fase Marah (Anger) Setelah melewati fase menyangkal maka ia akan merasakan marah dan tidak terima bahwa ia sedang mengalami peristiwa buruk. Hal ini juga bisa membuatnya menjadi frustasi, lebih sensitif, tidak sabaran dan mengalami perubahan mood. Pada fase ini mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti “Mengapa harus saya? Apa salah saya?”Amarah ini bisa ditujukan kepada siapa saja, baik pada diri sendiri, orang lain, benda di sekitar, atau bahkan kepada Tuhan. Kalau yang saya alami, sebelum ada difase marah biasanya saya akan merasa sedih dan kecewa terlebih dahulu. Kemudian mencari akar masalahnya dan memastikan kalau ini terjadi apakah memang salah saya atau orang lain atau faktor eksternal yang bermasalah. Jika masalah itu datang karena internal diri saya sendiri biasanya saya cenderung marah dan menyalahkan diri saya, jika disebabkan oleh orang lain atau faktor eksternal maka saya cenderung marah, tidak terima, dan menyalahkan faktor eksternal tersebut. Marah disini bukan berarti berapi-api melabrak orang tersebut melainkan merasa emosional dan sebal terhadap orang tersebut yang saya rasakan secara internal baik pikiran maupun perasaan.
3. Fase Tawar-Menawar (Bargaining) Ini merupakan mekanisme pertahanan emosional seseorang agar ia bisa mengambil kontrol kembali atas hidupnya. Fase ini umumnya ditandai dengan merasa bersalah baik pada diri sendiri atau orang lain. Mereka juga akan mencari cara untuk mencegah terjadinya peristiwa buruk yang sedang dialami kemudian hari. Pada tahap ini biasanya saya mulai berpikir dan berdialog pada diri saya, menyimpulkan hasil analisis pemikiran saya pada tahapan sebelumnya dan mencoba untuk bangkit dengan memulai mencari penyemangat. Saya senang mendengarkan lagu baik lagu sedih atau kecewa yang serasa ikut memvalidasi perasaan saya. Biasanya setelah perasaan saya menjadi lebih baik saya sudah mulai bisa berpikir positif untuk mengambil langkah selanjutnya yang bisa saya lakukan. Seperti mengatur strategi atau urutan yang akan saya lakukan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Saya masih berusaha agar hal ini tidak begitu berdampak kepada saya atau setidaknya mengurangi atau mencari alternatif pemecahaan masalah secara cepat yang dapat saya lakukan, atau mencari/meminta kejelasan dari faktor eksternal dan solusi atas permasalahan yang terjadi. Biasanya disini masih menggenggam secercah harapan dan berharap masih bisa diperbaiki.
4. Fase Depresi (Depression) Setelah upaya untuk menolak dan mengubah kenyataan pahit yang dialaminya tidak berhasil, orang yang mengalami hal buruk kemudian akan merasa sedih, kecewa, dan putus asa yang teramat dalam. Ini merupakan bagian dari proses terbentuknya luka batin yang normal terjadi. Fase depresi umumnya ditandai dngan rasa lelah, sering menangis, sulit tidur, kehilangan nafsu makan atau justru makan berlebihan, tidak bersemangat melakukan aktivitas sehari-hari. Fase ini bisa dikatakan fase terberat dan perlu diwaspadai, karena rasa duka dan luka emosional yang dirasakan bisa menimbulkan ide percobaan bunuh diri.
Ternyata upaya yang saya lakukan di fase bargaining itu tidak bisa menyelesaikan masalah, tidak bisa mengubah kenyataan buruk itu, atau bahkan mungkin sedikit meminimalisir pun tidak bisa. Nah disinilah fase depresi mulai saya rasakan lebih dalam. Rasanya pikiran dan perasaan terkuras sekali di fase ini, sampai akhirnya sudah tidak bertenaga mau sekedar sambat aja udah gak selera udah males mau membahas hal tersebut. Jika orang bertanya tidak bisa menceritakan karena terlalu dalam lukanya jadi emosional dan nangis lagi. Males mau ngapa-ngapain, jadi lebih sensitif, makanya ketika masa depresi akan suatu masalah saya lebih nyaman untuk berdiam diri dikamar entah itu hanya sekedar tidur, bermalas-malasan, atau mencari sudut pandang lain agar saya merasa lebih baik. Pada fase depresi segala pikiran negatif datang menghantui, kalau kita semakin down, lingkungan tidak mendukung, maka akan muncul pikiran untuk mengakhiri hidup. Saya pernah ada difase punya pikiran seperti ini. Namun karena orientasi pikiran saya ke masa depan lalu saya bayangkan dampak yang akan terjadi seperti apa. Tentu orang terdekat kita akan sedih, membuat geger semuanya, dan yang lebih penting mengakhiri hidup bukanlah solusi. Karena jika kita meninggal karena membunuh diri kita sendiri maka kita tidak akan masuk surga, justru kita hanya menghindari permasalahan itu di dunia namun membuat masalah baru di akhirat. Saya yakin justru di akhirat lebih berat hukumannya dibandingkan kita mencoba survive dan juga berusaha untuk berani menghadapi dan menyelesaikan ini semua.
5. Fase Menerima (Acceptance) Pada tahap ini seseorang sudah bisa menerima kenyataan bahwa peristiwa buruk yang di alami benar-benar terjadi dan tidak dapat diubah. Meskipun perasaan sedih, kecewa, dan penyesalan masih ada tetapi di tahap ini seseorang sudah mulai bisa belajar dan menyesuaikan diri untuk hidup bersama kenyataan yang baru dan menerima hal tersebut sebagai bagian dari perjalanan hidupnya. Bahkan jika orang tersebut bisa berpikir positif mereka akan menjadikan pengalaman pahit yang dialami sebagai pembelajaran untuk bisa berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Biasanya ditahap ini saya mulai mencari sudut pandang dari segi Agama Islam. Bagaimana hal yang sebaiknya dilakukan oleh orang Muslim ketika mengalami ini. Mencoba untuk mengikhlaskan dan bertawakal untuk menyerahkan semua urusan kita kepada Allah SWT. Karena rasanya ikhtiar sudah dilakukan namun jika Allah tidak berkehendak yah hal tersebut tidak akan terjadi. Biasanya difase ini ya sudah gak ada excited lagi sama hal tersebut, udah hilang rasa dah terseah ajalah. Yang penting bisa dijalani dan dilalui yaudah. Udah gk mau berharap apa-apa lagi sama manusia. Orientasinya udah gak dunia lagi, yang penting bisa di lalui dan gk kepikiran sampai bundir aja udah Alhamdulillah.
Baru saja saya melihat video Ust.AliHansanBawazier kalimatnya luar biasa sekali.
“Sesungguhnya seseorang Allah tetapkan di sisi Allah 1 tempat tertentu di surga namun dia tidak bisa menggapainya dengan amalnya. Amalnya tidak sampai ke sana, dan Allah senantiasa uji dia dengan hal-hal yang dia tidak suka di kehidupan dunia.”
Selain itu juga ada ceramah dari Ust.HananAttaki yang menjadi reminder buat saya.
“Allah SWT itu merencanakan kehidupan kita. Kita cuman perlu menjaga masih on the track apa tidak, masih di garis yang Allah ridhai apa tidak. Kalau masih di garis yang Allah ridhai, pokoqnya jangan sampai melanggar, jangan sampai keluar batas, dan Insya Allah jalan itu tidak akan sampai membawa kita ke jalan kehancuran atau kerugian, tidak mungkin. Karena Allah yang merencanakan , mesipun adegan yang Allah kasih tidak membuat kita nyaman. Saat ini kita anggapnya musibah tapi someday kita bisa menganggapnya sebagai nikmat."
Sebenarnya kita tau konsep bahwasanya hidup ini tidak melulu mengahdapi hal baik saja. Namun lagi-lagi karena hal buruk ini terjadi secara tiba-tiba seringnya kita merasa gak siap, kita ngerasa kaget, dan bingung harus bereaksi bagaimana. Seperti pada video berikut yang menanyakan kepada Ust.HananAttaki "Bagaimana respon yang dapat kita lakukan agar kita bisa merespon dengan postif atas takdir yang tidak berjalan sesuai harapan kita?" Pada video tersebut Ust.Hanan mengatakan bahwa ia memiliki pola Life Style, perihal sabar orang tau gimana sabar, solat, termasuk ibadah lainnya orang sudah tau. Tapi kalau Life Style Entertain banyak yang tidak notice. (Untuk video lengkapnya kalian bisa simak pada link diatas yang tulisannya berwarna biru). Nah membahas pola Life Style khusus Entertain bisa dibilang hobby atau hiburan apa yang kita sukai atau hal apa yang bisa menghasilkan hormon bahagia seperti dopamine, serotonin, endorphin, dan oksitosin. Tanpa saya sadari saya pun memiliki pola Life Style Entertain yang saya lakukan agar merasa bahagia atau lebih baik atas sesuatu hal buruk yang menimpa saya, mungkin hanya sekedar sedikit melupakan agar saya tidak memikirkan permasalahan itu makanya saya harus mengalihkan pikiran saya pada hal lain terutama pada hobby yang saya sukai.
1. Mendengarkan dan Menyanyikan Lagu Kesukaan
Sebetulnya sudah sempat saya singgung di bagian fase bargaining ya. Lagu ini baik lagu sedih yang menggambarkan isi hati atau lagu energik yang membangkitkan semangat selalu saya dengarkan sesuai dengan mood saya inginnya apa. Saya sering mendengarkan lagu yang energik, happy, riang untuk membangkitkan mood saya. Sambil menggerakkan anggota tubuh seperti tangan dan kaki bergerak mengikuti irama dan alunan lagu. Bisa juga dengan menonton film atau drakor yang relate atau setidaknya membuat saya terbawa suasana dan ikut menangis. Bisa juga dengan saya mengambil hikmah atau pelajaran hidup yang bisa saja di dapatkan dari tontonan tersebut. Karena ada fase dimana saya merasa orang lain tidak akan mengerti apa yang saya rasakan, karena biasanya ketika saya cerita kepada orang lain responnya tidak seperti yang saya harapkan, saya tidak merasa divalidasi emosi sedih dan kecewanya. Mereka hanya mengatakan “Sabar ya, iya yang sabar aja” ya memangnya selama ini saya gk sabar apa!. Saya cerita ingin divalidasai emosi saya tetapi orang lain tidak paham itu. Sehingga saya lebih suka mengekspresikan perasaan saya baik sedih atau senang dengan mendengarkan dan menyanyikan lagu bahasa asing terutama korea dan jepang. Mengapa bahasa asing? Karena jika saya mendengarkan dan menyanyi menggunakan lirik bahasa Indonesia yang dimengerti oleh semua orang akhirnya malah saya yang di judge “Halah gitu aja galau, ciee lagi kasmaran ya, dll” saya malas untuk diusik dan dikomentarin. Jika saya mendengarkan dan menyanyikan lagu bahasa asing misalan saya teriak-teriak bilang "Daijoubu daijoubu” juga mereka gak ngerti kan itu artinya apa. Seintrovertnya wanita, ingat mereka harus mengeluarkan ribuan kata lebih banyak dibandingkan pria lohh. Mungkin saya tidak nyaman jika harus langsung bercerita ke orang lain dari a sampai z tapi saya bisa mengalihkannya dengan bernyanyi untuk meluapkan ekspresi yang saya rasakan.
2. Menulis
Seperti yang sedang saya lakukan saat ini. Pada akhirnya Alhamdulillah saya bisa produktif bulan ini membuat 2 tulisan ya dikarenakan sebagai life style entertain saya nih. Sebetulnya saya sedang berada di fase penerimaan sih, dengan menulis saya merasa perasaan saya divalidasi oleh diri saya sendiri, “Pada akhirnya aku bisa menerima ini semua, ya meskipun masih ada rasa-rasa kekecewaan dan sedih namun kadarnya sudah tidak sebanyak dan semendalam sebelumnya. Aku bisa melalui ini semua, percaya bahwa Allah memberikan ujian atau cobaan seperti ini karena Allah tau aku bisa melaluinya. Mungkin saja dengan melewati cobaan ini ada hal indah di depan sana yang sudah menungguku. Selain itu juga tentunya hal ini dapat memperkuat mentalku. Sebagai pengingat juga bahwasanya kita hidup bukan untuk bahagia, melainkan kita diberi beragam ujian, apakah kita mampu atau tidak melewati ini semua. Karena sejatinya hidup yang kekal bahagia hanya di surga kan? Dunia hanyalah tempat sementara yang memang berisi ujian. Bahkan kebahagian atau hal baik juga bisa menjadi ujian kan bukan hanya hal buruk saja. Jadi jangan berlarut-larut meratapi kesedihan, ayo bangkit untuk menjadi peribadi yang lebih baik lagi! Dengan pandanganku sekarang aku sudah tidak beraanggapan bahwa aku adalah orang yang apes atau sial. Melainkan aku sudah menerima diriku, cobaan atau ujian yang datang bisa saja sengaja Allah berikan untuk mengangkat derajatku agar aku lebih kuat lagi dan tidak lemah. Mungkin dengan cara inilah Allah bisa membentukku dan mengingatkanku untuk selalu kembali pada-Nya dan jangan terlena dengan kesibukan dunia yang sementara."
3. Membaca Buku, Menonton Ceramah Ust/Film/Drakor yang Relate dengan yang Dialami
Saya merasa emosi saya tervalidasi ketika saya menonton ceramah Ust/film/drakor yang relate dengan yang dialami. Ketika melakukan hal tersebut saya akan mengangguk-ngangguk dan merasakan mereka memahami apa yang saya rasakan. Saya mendapatkan pencerahan dari ceramah Ust. atau buku yang saya baca. Makanya koleksi buku saya paling banyak selain buku pelajaran atau mata kuliah yaitu buku tentang permasalahan hidup yang sedang saya alami. Seperti kali ini saya tertarik untuk membeli bukunya Boy Candra “Aku Terlalu Takut Jujur bahwa Aku Lelah”. Sedangkan menonton film/drakor membuat saya terbawa suasana dan ikut menangis, serta membuat saya bisa mengambil hikmah dari setiap karakter tokoh maupun amanat dari cerita tersebut yang tentunya menambah pelajaran hidup bagi saya. Seperti kemarin saya menonton drakor Trigger yang cukup relate dan bisa saya ambil pelajaran kehidupannya. Bahkan sayapun terinspirasi untuk mengaitkannya dengan kehidupan yang saya alami dan sudah saya publish pada tulisan sebelumnya KetikaAkukeTRIGGER.
4. Merawat Tanaman atau Hewan
Perasaan yang saya rasakan ketika merawat tanaman yang saya sukai yaitu tanaman karnivora saya merasa sangat rilex. Saya sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk merawat tanaman karnivora saya tersebut. Capek? Enggak sih, rasanya seru aja, apalagi kalau tanaman kita bisa tumbuh dengan baik. Selain itu kita juga bisa coba-coba melakukan eksperimen. Selain tanaman, merawat hewan kesayangan juga bisa mengalihkan pikiran kita. Biasanya saya memelihara kucing, katanya kucing dapat menyerap energi negatif pada manusia. Ketika saya dalam kondisi kurang baik, badmood dan sedih saya senang memeluk kucing saya. Selain merasa gemas dengan dia saya juga merasa dia bisa merasakan apa yang sedang saya rasakan. Sayangnya ketika saya mengalami hal buruk kali ini kucingku sudah mati karena sakit.
5. Berbicara dengan Keluarga atau Teman Terdekat yang Dipercaya
Biasanya ketika mengalami hal buruk jika memang saya belum sanggup bercerita maka saya beri jeda terlebih dahulu. Ketika kondisi saya sudah sanggup bercerita maka saya akan bercerita. Karena jika saya bercerita tidak dalam kondisi siap maka yang ada malah nangis di depan mereka. Saya pernah mendapat kejadian yang tidak mengenakan oleh ayah saya. Ketika saat itu saya sedang sedih karena dosen pembimbing saya yang sulit sekali untuk ditemui untuk meminta tanda tangan dan juga saat itu ada kebijakan kampus yang berubah tidak seperti biasanya sehingga saya kesulitan untuk meminta tanda tangan. Tanda tangan ini penting untuk saya karena untuk keperluan beasiswa pendidikan dari PT tempat ayah saya bekerja. Saya yang saat itu kondisinya memang sedang lelah dan capek karena tugas kuliah, dan diperlakukan tidak baik oleh orang-orang tersebut akhirnya ketika menelpon ayah saya, saya jadi menangis. Ayah saya mengatakan “Udah diem, sabar aja gak usah nangis!” Jujur disitu saya merasa perasaan saya tidak divalidasi. Sepertinya sebelum saya kuliah juga pernah dapat kalimat, “Halah kayak gitu aja gak usah nangis!” Padahal saya tipikal orang yang ketika sebal, sedih, kecewa, marah yang mendalam saya sulit membicarakannya dan berakhir dengan menangis. Sejak saat itu saya berpikir bahwa jangan menangis di depan orang tua saya, jika masih bisa ditahan maka ditahan saja. Lebih baik saya menangis di tempat yang tidak terlihat oleh mereka. Sebenarnya kondisi seperti tidak boleh menangis ini tidak baik ya. Saya pun belajar bagaimana cara mengelola emosi, pentingnya memvalidasi emosi, growth menset dll. Meskipun saya diperlakukan demikian tetapi saya tidak ingin melakukan hal seperti itu kepada orang lain dan juga anak saya nantinya.
Berikutnya berbicara dengan teman terdekat, bisanya teman yang kita percaya adalah teman yang sefrekuensi dengan kita, sehingga ketika kita bercerita dia akan merespon atau menaanggapi cerita kita dengan baik, dengan merasakan empati dan juga simpati kepada kita. Bahkan mereka yang selalu ingin tau perkembangan cerita atau masalah yang sedang kita lalui dan tentunya juga mereka merasa empati dan juga mensupport kita. Dengan bercerita kepada teman yang tepat dapat memvalidasi perasaan yang sedang kita alami.
Kesimpulan yang dapat aku ambil dari kejadian buruk yang sering menimpaku yaitu tidak perlu membandingkan perjalanan hidupku dengan yang lainnya, semua takdir orang itu berbeda. Bahkan kebahagiaan dan kesulitan yang aku rasakan dan mereka rasakan berbeda. Ingat bahwa Allah tau porsi ujian yang sanggup dilalui oleh setiap hamba-Nya. Jadi jangan berkecil hati dan bersedih lagi. Jika dunia mematahkanku dan menjatuhkanku, ingat bahwa memang dunia tempatnya manusia untuk di uji. Jika di dunia aku diperlakukan tidak adil oleh mereka, maka ingat akan ada hari pembalasan, Karena tujuan akhir yang kekal abadi hanyalah diakhir kehidupan kita nanti yaitu di akhirat.