Paradoks


Pertemanan... Sebuah interaksi sosial yang pasti terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari di manapun kita berada. Biasanya pertemanan ini terjalin karena kita berada pada tempat yang sama, memiliki kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ketertarikan yang sama, kegemaran yang sama, atau perasaan sefrekuensi. 

Setiap orang memiliki definisi pertemanan yang berbeda, begitupun tingkat kedalaman hubungannya. Ada orang-orang yang bisa memiliki banyak teman, ada pula orang-orang yang memiliki sedikit teman tetapi hubungannya mendalam. 

Aku sendiri mendefinisikan pertemanan dengan makna yang dalam. Aku tipe orang yang lebih memilih memiliki sedikit teman yang tulus tetapi mereka adalah orang yang aku percaya daripada memiliki banyak teman tetapi tidak tulus atau fake. 

Jika aku flashback ke masa aku kecil, pertemanan pertamaku adalah di lingkungan komplek perumahan di PT. Kami terdiri dari beragam usia, ada yang seumuran denganku, ada yang lebih muda dari aku, ada juga mbk mbk yang lebih tua yang membimbing kami. Menurutku pertemanan ini masih natural seperti pertemanan umumnya anak-anak kecil. 

Pertemanan kedua adalah ketika SD, yang paling berkesan saat aku kelas 5 dan 6. Dimana kami sudah memiliki grub atau geng yang terdiri atas 8 orang yang awalnya sering berada di acara yang sama untuk mengikuti perlombaan atau kegiatan disekolah hingga akhirnya kami bisa menjadi dekat. Namun akhirnya pertemanan itu berakhir karena memang ternyata mereka toxic. Toxic karena selalu bergiliran membicarakan salah satu diantara kami. Ketika tiba giliranku, aku merasa seharusnya pertemanan yang baik tidak seperti ini. Akupun memutuskan untuk keluar geng baik-baik dengan mengirimi surat saat di bangku SMP. Kebetulan juga sebagian dari kami berada di SMP yang berbeda sudah tidak 1 sekolah lagi. Dari kejadian itupun aku sadar bahwa aku lebih nyaman berteman dengan lingkup lebih kecil yang terdiri dari beberapa orang saja, agar tidak ada grub di dalam grub.

Pertemanan ketiga dan keempat saat SMP dan SMA. Benar kali ini memang pertemananku dilingkup yang lebih kecil, biasanya hanya berdua saja dan itu pertemanannya sangatlah dekat. Berteman berdua ini dengan beberapa orang yang berbeda, karena setiap jenjang berteman dengan orang yang berbeda karena berada di kelas yang berbeda, namun ya masih menjalin pertemanan dengan teman sebelumnya. 

Pertemanan kelima bisa dibilang ini pertemanan di dunia maya di fase Fangirling. Dimulai saat aku sudah memiliki akun media sosial seperti Twitter dan Facebook saat itu. Selain teman Fangirling juga ada teman sesama komunitas introvert. Teman dunia Maya ini dimana aku dekat dengan mereka yang jaraknya berjauhan berbeda pulau. Meskipun belum pernah bertemu namun karena kesamaan yang sama dan merasa sefrekuensi kami bisa berteman. Bahkan ada 3 orang teman sosmed ini yang akhirnya bertemu secara langsung di real life di masa depan. 

Pertemanan keenam saat kuliah, ada pertemanan grub dimana kami berteman karena berada dilingkungan yang berdekatan dan untuk kepentingan menyelesaikan tugas kuliah kami, jadi aku tidak terbuka secara pribadi ke mereka. Ada juga pertemanan kecil berdua karena kami memiliki kesamaan yang sama yaitu menyukai anime. Saat fase SMA juga ada pertemanan yang terbentuk karena kegemaran menyukai nonton anime juga. 

Pertemanan ketujuh saat di dunia kerja. Sejujurnya pertemanan di tempat kerja aku menganggapnya sebagai formalitas umumnya saja. Karena aku tidak ingin masalah pribadiku di ketahui oleh rekan kerja, intinya tidak ingin terlibat hubungan pertemanan yang mendalam. Namun ada beberapa orang dimana aku merasa sefrekuensi dan ini sangatlah baik dalam relasi pertemanan karena bisa saling berbagi informasi dalam pekerjaan. Ada satu rekan kerja ekstrovert yang selalu berbagi cerita dan informasi hingga akhirnya secara alami terbentuklah hubungan pertemanan yang lebih dekat. Namun pada akhirnya dua orang teman dekatku tersebut pindah tempat kerja. 

Pertemanan kedelapan kembali menjelajah dunia maya hingga akhirnya terbentuklah pertemanan ini. Aku bagi menjadi 2, yang pertama pertemanan fansgirling dan yang kedua pertemanan karena hobby tanaman karnivora (tavor). 
Aku kembali memiliki pertemanan fansgirling lagi dengan beberapa orang namun aku bersyukurnya ada 1 orang yang masih bertahan sampai sekarang. 
Pertemanan karena hobby tavor yang sama ini mulai terbentuk ada yang lingkup kecil berdua, ada yang lingkup berkelompok. Lingkup kecil karena kami sering chat membahas hobby yang sama, yang berkelompok karena kami bertemu di live tavor yang akhirnya aku merasa mereka seperti keluarga dan teman. 

Dari semua pertemanan itu ada yang kandas sudah tidak komunikasi lagi, ada yang masih bertahan namun tidak intens sesekali saja ketika kami ingin berbagi cerita, karena terkait jarak dan sudah berbeda kepentingan. 

Namun yang ingin aku bahas pada tulisan ini, aku cermati terdapat pola yang sama dimana akhirnya pertemanan yang sudah kami bangun akhirnya berakhir dan sudah seperti orang yang tidak kenal lagi dan tidak saling peduli lagi. 

Dalam berteman jika aku menganggap itu pertemanan biasa aku tidak akan mengeluarkan effort untuk begitu peduli dan merespon orang lain. Aku cenderung cuek dan tidak ingin terlibat lebih jauh dengan permasalahan orang lain. Karena ketika orang lain  bercerita aku dapat merespon ala kadarnya saja dengan reaksi secukupnya atau berada di mode menjadi pendengar yang baik. Menjadi pendengar yang baik itu artinya aku mendengarkan secara cermat, menganalisis, meresapi, dan membantu memberikan saran atas permasalahan yang diceritakan. Tentunya hal tersebut akan menguras energi. Apabila secara terus menerus kita menjadi pendengar yang baik untuk orang lain tentunya ada kalanya kita merasa lelah karena energi kita ikut terkuras, dan merasa kelelahan secara emosional. Karena otomatis yang aku rasakan aku seperti mengabsorpsi atau menyerap perasaan mereka. Apabila itu hal yang positif tentu bisa membuaku ikut merasakan senang dan bahagia tapi seringnya yang diceritakan adalah hal negatif seperti kesedihan, kekecewaan, kemarahan dll. Mereka membuang energi negatif tersebut kepada kita dan merasa lebih baik setelah bercerita, sedangkan kita menerima energi tersebut dan tentunya itu berpindah ke kita. 

Jika aku sudah merasa sefrekuensi dengan seseorang secara otomatis percakapan kami akan masuk ke tahap deeptalk. Di fase inilah terkadang sering over sharing, ya namanya juga jarang bertemu orang yang sefrekuensi sekalinya bertemu yang sefrekuensi ingin membahas semua hal. Di tahap ini hubungan kita semakin dekat, semakin seru, semakin menyenangkan, semakin lebih mengenal satu sama lain yang awalnya mungkin kami saling penasaran. 

Namun sayangnya hal tersebut tidaklah berjalan mulus. Aku lihat polanya ketika mereka sudah merasa terbiasa dengan perlakuanku yg fast respon, memprioritaskan mereka, memberikan waktu ke mereka, mendengarkan mereka, selalu ada, mereka menjadi lupa batasan. Beberapa diantaranya yaitu : 
1. Ingin selalu didengarkan, tapi tidak menjadi pendengar yang baik 
2. Ingin di prioritaskan, tapi tidak memprioritaskan balik
3. Bercanda berlebihan (semua hal dijadikan bahan bercanda) 
4. Bicara seenaknya tidak di filter
5. Tidak menghargai effort yang sudah diberikan, dan batasan yang sudah aku tetapkan. 
6. Tidak jujur berterus terang

Tentunya jika sekali dua kali mereka melanggar aku sudah sering mencoba untuk memakluminya, yang ketiga biasanya aku tegur dan beritahu bahwa aku tidak suka dengan sikap dia yang begini-begitu. Namun jika sudah ditegur masih berlaku demikian maka aku cenderung akan doorslam. Penjelasan apa itu doorslam bisa kamu baca pada tulisan biru ini. 

Sejujurnya aku sering merasa aku sudah memberikan yang terbaik kepada mereka. Bagiku yang terbiasa sendiri menjalani hari dengan tanpa adanya distraksi dari orang lain itu sebuah keheningan yang biasa aku jalani. Dengan hadirnya mereka yang masuk ke hidupku, jika bersikap seperti biasanya itu tidak masalah, tapi manusia itu kan dinamis, terkadang mereka malah yang menyangkal opiniku, terlalu banyak mengkritik, mengabaikan chat/vnku tidak gercep dengerin tapi malah berlarut respon teman yang lain di grub yang sama, malah menghakimi dll. Ketika aku ingin rehat untuk fokus pada diriku sendiri saja, mereka mendistraksi dengan topik menarik yang harus untuk aku respon. Menyepelekan padahal aku kondisi sedang serius, tapi mereka masih ngebecandain aku. Perasaan tidak nyaman yang bertumpuk-tumpuk itu akhirnya menciptakan suatu kondisi bahwasanya kamu harus tau apa yang aku rasakan. 

Aku tipe orang yang cukup komunikatif untuk menyampaikan rasa ketidaknyamanan ku tersebut. Aku berprinsip jika ingin memiliki hubungan yang sehat lebih baik secara jujur mengutarakan apa yang dirasakan, apalagi jika sudah timbul perasaan tidak nyaman itu. Tujuannya agar kita bisa lebih terbuka soal perasaan satu sama lain, hal yang membuat tidak nyaman bisa kita perbaiki agar lebih baik lagi dan tidak diulangi. 
Coba deh kalian lihat video ini yang sangat wakili. Video dari kak Geofakta Rezali. 

Aku sangat suka dengan tulisan di artikel sebelumnya bahwa ini memang cukup mewakili sekali, tulisannya sebagai berikut.
"Meskipun INFJ yang melakukan door slam, pihak lain dapat melakukan banyak hal untuk mencegah reaksi ini. Sebab, INFJ tidak akan langsung melakukanya dalam semalam.

Jika kamu bukan seorang INFJ, tetapi memiliki teman INFJ, sebaiknya periksa keadaannya secara teratur dan menanyakan kabarnya. Ajak bicara tentang minatnya, bukan hanya membicarakan tentang kepentinganmu sendiri. 

Meskipun teman INFJ-mu selalu menjadi pendengar yang baik, pastikan mereka juga memiliki ruang untuk didengarkan. Saat kamu mempunyai konflik dengan teman INFJ, hubungi mereka, bahkan setelah kamu merasa masalahnya telah teratasi.

INFJ memutuskan hubungan ketika mereka merasa terlalu toksik, berat sebelah, dan menyakitkan untuk tetap berada di dalamnya. Kepribadian konselor yang dimiliki INFJ membuat mereka memiliki sisi yang dingin dan tertutup, itu akan sangat sulit untuk memenangkan kembali mereka ketika sebuah hubungan sudah menjadi tegang."

Ketika aku sudah melakukan doorslam terutama kepada orang lain rasanya untuk kembali seperti dulu sudah susah. Vibesnya sudah berbeda, terkadang ketika aku menurunkan ego dan mencoba untuk memberikan kesempatan lagi setelah doorslam, hasilnya pun memang benar lebih baik doorslam saja. Karena terlihat bahwasanya mereka tidaklah seserius itu dan setulus itu untuk mengerti aku dan untuk menjadi temanku kembali. 

Doorslam yang aku lakukan harusnya jika memang mereka teman yang tulus dan benar benar mengganggap aku penting dan teman yang berarti buat mereka, mereka bisa sadar. Bahwasanya ketika sikapku berubah harusnya mereka sadar diri atas perbuatan mereka dan memperbaiki itu semua. Perubahan sikap yang drastis dengan mencabut akses interaksi harusnya mereka notice. Tapi nyatanya mereka pun tidak peduli kan...😅 

Disinilah aku selalu sadar, bahwa banyak orang yang tidak memiliki kapasitas yang kuat untuk bisa menjadi teman dekatku. Orang lain hanya mampu menerima hal positif yang baik dari diriku, tetapi ketika memasuki hubungan pertemanan yang lebih tinggi tingkatannya dengan mengetahui seperti apa diriku yang sebenarnya, hal-hal idealist yang harusnya hubungan pertemanan ini bisa terus bertahan dan harmonis, kebanyakan orang tidak mampu sampai di tahap itu. 

Next untuk pertemananku selanjutnya dimasa depan, jika kamu akhirnya bisa membaca tulisanku ini berarti aku sedang membuka diri dan hatiku kepadamu. Kamu adalah orang yang aku anggap berharga hingga akhirnya aku izinkan untuk bisa melihat sisiku yang ini. 

Karena aku tidak ingin terluka lagi melakukan doorslam dan berakhir kepada kehilangan perteman, aku memutuskan untuk menulis latarbelakang diriku dalam memandang apa itu pertemanan. 

Harapannya setelah membaca ini kamu bisa lebih menghargai aku sebagai teman, karena sejujurnya melakukan doorslam itu adalah langkah terakhir yang aku lakukan dan itu adalah hal yang sangat ingin aku hindari, namun hanya itu bentuk pertahanan diri yang secara alami aku lakukan. 

Yah memang diri ini adalah pribadi yang rumit, kompleks, dan paradoks, sehingga aku tidak terbuka kepada semua orang. Semoga kamu bisa memahami apa yang aku tuliskan disini. Jika kmu bisa memahami aku, tentunya akupun siap memahami mu juga. 

Semoga kedepannya setelah tulisan ini aku unggah, aku dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Bertemu dengan orang yang tulus dan banyak hal baik yang aku dapatkan lagi. 

Terimakasih sudah membaca tulisan ini. Sampai jumpa ditulisan berikutnya ^^

















Postingan populer dari blog ini

Ketika Aku keTRIGGER!

ROMANSA

Bukan karena SIAL tapi harus SIAP