Following Your Heart

                 Pict by theAwkwardYeti

Seberapa sering kamu mengikuti kata hatimu? Apalagi sebagai seseorang yang paradoks dan sering di palahpahami. Jika flashback melihat bagaimana pola pengasuhan dan kebiasaan dalam keluarga tentunya hal itu sangat mempengaruhi sekali. 

Sebagai anak pertama, yang kuingat saat itu semenjak aku punya adik maka secara tidak tertulis aku diberi tanggung jawab dan di tuntut untuk bisa dewasa dan mandiri. 

Seolah olah anak pertama mau tidak mau harus membantu ibunya karena ibunya yang sedang kerepotan mengurus rumah dan juga mengasuh anak. Mungkin kesan membantu itu tidaklah negatif jika aku yang masih kecil itu diberikan pengertian terlebih dahulu. Hal yang membuat aku kesal adalah seolah tanggung jawab orang tua itu diberikan kepadaku, tanpa bisa aku diberi kebebasan memilih mau atau tidak. Setidaknya diberikan pengertian yang baik. Karena realitanya jika aku menolak maka akan dianggap anak durhaka, anak yang tidak baik karena tidak mau membantu ortunya. Sehingga aku harus terbiasa melakukan sesuatu hal yang aku tidak suka. Karena aku tidak diberikan kebebasan untuk berpendapat dan memilih. Karena bagi ortu pilihan ortu adalah pilihan terbaik, apa yang kamu lakukan itu akan bermanfaat kedepannya untuk menjadi orang yang mandiri. 

Karena hal tersebut aku tumbuh menjadi seseorang yang sulit untuk mengutarakan apa yang aku rasakan kepada orang lain baik secara emosional maupun ekspresi. Apalagi jika waktu SMA aku tidak mengulik perihal kepribadian mungkin aku akan tumbuh menjadi seseorang yang datar saja dengan menyembunyikan semua itu. Yang kurasa aku takut diabaikan, tidak didengar, diremehkan. Karena ketika aku berusaha bersuara kepada ortuku saat kecil aku selalu dianggap anak kecil bau kencur yang pendapatnya tidaklah penting untuk di dengar dan pertimbangkan. 

Seiring bertambahnya waktu, adik-adikku pun tumbuh remaja. Aku melihat adik-adikku dengan mudahnya menolak suruhan orang tua dia berani berkata tidak dan itu ternyata tidaklah apa-apa. Mungkin efeknya bakal diomelin. Cuman itu menjadi referensi bagiku, boleh loh ternyata tidak menuruti semua perkataan ortu. Cuman ya pada akhirnya jika adikku mengatakan tidak maka hal itu akan diserahkan kepadaku yang pastinya tidak menolak, kalaupun menolak pasti akan dijejeli embel-embel masa gitu aja gk mau bantu, dan perkataan lain yg seolah kalau aku menolak aku yg salah.

Ketika itu pernah ada di posisi aku merasakan kehampaan. Seolah hidup berjalan dengan datarnya tanpa ada rasa ambisi atau keinginan untuk melakukan sesuatu hal yang diingkan. Karena banyak hal di luar kuasaku yang berjalan tidak sesuai yang kuinginkan. Hal itu membuat rasa Overthinking yang terus menerus membuat ku harus berpikir dan berpikir. Hingga akhirnya aku mencoba untuk melakukan hal apa yang ingin aku lakukan untuk mengalihkan overthinking ini, maka coba aku lakukanlah selagi itu positif. 

Aku mulai kala itu dengan mencoba merawat tanaman karnivora. Lalu bertepatan pula dengan datangnya band Korea favoritku ke Indonesia yang sudah lama ku nanti dari jaman remaja. Dari situ aku bertekad aku harus mengejar apa yang aku inginkan, selagi itu bisa dan Allah menakdirkan. Karena aku sudah terlalu lelah dengan perjalanan karir pekerjaanku yang selalu di gagalkan karena sistem, kebijakan dll diluar kendaliku. 

Setelah itu aku terpikirkan untuk mengoleksi Album dan merch grub musik yang aku sukai yang belum pernah terkabul sebelumnya. Lalu aku terpikirkan untuk coba memelihara hewan yang sama sekali belum pernah aku temui dan sudah lama sekali membuat aku penasaran yaitu leaf insect. Aku juga coba membuat aquascape ala-ala karena algoritma sosmedku kala itu isinya seputar ikan dan aquascape. Kebetulan di rumah ada aquarium dan mencoba untuk merealisasikan hal itu. 

Bagaimana yang aku rasakan?

Aku merasa hidupku lebih bermakna. Melakukan apa yang aku mau aku merasa hidup. Rasanya aku akan menyesal jika aku meninggal dalam kondisi tidak melakukan dan merealisasikan hal-hal yang aku inginkan sebelumnya di dunia. Karena rasanya menahan hal itu bertahun-tahun sampai akhirnya keinginan itu sudah tidak relevan dengan kehidupan sekarang itu rasanya sangat disesalkan dan sudah terlewatkan. 

Ternyata pola pengasuhan itu juga berdampak dalam hal memilih tambatan hati.

Sebelumnya sering seseorang yang datang mendekat adalah seseorang yang tidak aku sukai, bisa jadi karena dia tidak masuk dalam kriteriaku. Biasanya dalam hal seperti itu langsung aku skip dan tidak ingin berurusan. Dalam hal romansa ini aku bersikap tegas, jangan main-main dengan perasaan seseorang. Karena akupun merasakan aku tidak mau dimainkan oleh orang lain. Karena sejauh yang aku tau pria lebih mudah salah paham terhadap perlakuan baik wanita. Jadi lebih baik dipandang tidak peka daripada meladeni siapa saja lalu di cap mempermainkan. 

Perihal romansa sudah pernah aku tuliskan disaat usiaku 25 tahun. Namun ternyata 3 tahun berjalan diusiaku sekarang setelah menulis tulisan itu kisah romansaku tetap seperti itu. Aku baru menemukan pengetahuan baru di tahun 2025 yaitu tentang Attachment style (gaya keterikatan) yaitu pola perilaku dan emosional seseorang dalam menjalin hubungan, yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dari interaksi dengan pengasuh utama (orang tua), lalu terbawa hingga dewasa dan memengaruhi hubungan dengan pasangan, teman, hingga kolega. Ada empat jenis utama yaitu Secure (Aman), Anxious (Cemas/Preokupasi), Avoidant (Menghindar/Dismissive), dan Disorganized (Tidak Teratur), yang mencerminkan bagaimana seseorang membangun kedekatan, mengatasi konflik, dan merespons kebutuhan emosional. 

Biasanya jika aku menyukai seseorang aku cenderung merasa tipe yang Anxious  yaitu takut ditinggalkan, butuh kepastian tinggi, sering overthinking, bergantung pada pasangan untuk validasi emosi. Meskipun konteksnya disini hanya aku sekedar suka ya, yang merasakan sendiri, karena aku belum pernah menjalin hubungan dengan orang yang Kusuka. 

Selama aku mempelajari tentang Attachment style aku pikir aku hanya tipe Anxious saja. Ternyata setelah hadir seseorang yang tiba-tiba dikenalkan dan tidak sesuai dengan kriteria yang aku tetapkan yang awalnya aku pikir aku sudah Secure bisa menerima kehadiran orang baru dengan membuka hati ternyata aku salah. Aku menemukan diriku yang menjadi Avoidant aku merasa cenderung menjaga jarak, menghindari konflik, tidak ingin ikut campur dan menyelami orang itu lebih dalam, merasa tidak tertarik. Mungkin karena sebelumnya aku langsung skip orang jika aku tidak suka namun karena aku berusaha membuka hati tapi nyatanya hatiku memberikan alarm bahaya dan waspada yang berlebihan. Jujur aku merasakan perasaan tidak mengenakan di hatiku, menjadi sulit tidur, tidak selera makan, dan timbul rasa ketakutan. 

Karena lingkungan dan orang tua yang berusaha untuk meluluhkan ku agar mencoba buka hati dulu, tetapi aku merasakan perasaan tidak mengenakan yang luar biasa akhirnya aku coba untuk melihat ke dalam diriku sendiri. Aku coba menghubungi seseorang yang rare bagiku, dan perasanku jauh berbeda rasanya aku tidak merasa avoident dengannya. Lebih baik aku mencoba jujur pada diriku sendiri perihal siapa yang sebenarnya aku sukai.

Akhirnya aku putuskan untuk skip orang sebelumnya itu di hari ke-4 kenalan meskipun hanya dari sosmed namun dari percakapan chatingan itu aku bisa melihat dan merasakan apakah hal-hal dari dirinya bisa aku terima atau tidak. Diluar rencana akhirnya aku memberanikan diri untuk terus terang mengenai apa yang aku rasakan kepada seseorang yang rare tersebut. Sebelumnya banyak hal yang jadi pertimbangan hingga akhirnya aku bersikap yaudahlah biasa aja jangan berharap lebih, namun setelah aku pikir lagi selama bertahun tahun aku selalu begini merasa bertepuk sebelah tangan sendiri tanpa tau bagaimana perasaan orang yang kusuka juga. 

Disitu aku menjadi sadar ternyata aku juga memiliki tipe kelekatan Avoident dalam diriku. Aku merasa seolah ya pada akhirnya merasakan hal yang sudah biasa yaitu tidak direspon balik, tidak bisa menggapai, tidak mendapatkan apa yang aku inginkan. 

Satu hal utama yang harus aku perjuangkan dalam perjalanan romansa ini yaitu, "Aku bisa memilihkan ayah yang baik dan pantas untuk anak-anakku kelak, namun anak-anakku tidak bisa memilih siapa ayah mereka". 

Tidak papa sesekali menurunkan ego dan gengsi pada orang yang aku anggap pantas, berbicara dari hati ke hati mengutarakan apa yang aku dan kamu inginkan adalah hal yang memang harus dilakukan untuk bisa menemukan sosok yang sudah lama aku nantikan itu. Entah siapa sosok orang yang namanya memang sudah dituliskan dalam takdirku itu. Jikapun memang tidak ada aku harap aku bisa bertahan dan menikmati kehidupankun tanpa penyesalan. Ya meskipun aku tau nyatanya kehidupan bukanlah melulu berisi kebahagian, melainkan berisi kelok-kelok kontur jalan yang tidaklah mulus.

Akhir kata aku tidak menyesal telah mengikuti apa kata hatiku, semoga pada tulisanku berikutnya ada kejadian baik dan perkembangan yang baik perihal perjalanan kisah romansaku. Aamiin...

Postingan populer dari blog ini

Ketika Aku keTRIGGER!

ROMANSA

Bukan karena SIAL tapi harus SIAP